Rp 59.500
15%
Rp 70.000
Suster Laurentina SDP Suster Kargo
Suster Laurentina SDP Suster Kargo
Rp 59.500
Rp 70.000
-15%
Hemat Rp 10.500
Detail Produk
ISBN
9786342400241
Penerbit
Obor
Jumlah Halaman
128 halaman
Berat
185 gram
Kategori
Katolik
Deskripsi
25 Tahun dalam Pelayanan Cinta dan Belas KasihBuku ini mengajak kita menyelami perjalanan rohani dan kemanusiaan yang melampaui tembok biara, menembus ruang kargo bandara, jalanan desa, hingga rumah-rumah duka – tempat wajah Allah yang tersalib hadir dalam diri para pekerja migran yang pulang tinggal nama. Sejak awal, Gereja mengimani bahwa Allah hadir dalam sejarah manusia, terutama dalam diri mereka yang lemah, miskin, dan tersingkir. Paus Fransiskus menulis dalam Fratelli Tutti (no. 68), “Iman sejati tidak pernah mengabaikan penderitaan orang lain, sebab kasih sejati selalu mencari cara untuk menjangkau mereka yang tertinggal.” .
— Mgr. Siprianus Hormat, Uskup Ruteng (Ketua Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau KWI)Kehadiran dan pelayanan Suster Laurentina menjadi kekuatan dan kekayaan, baik bagi kongregasi maupun Keuskupan Agung Kupang sehingga perlu didukung dan diapresiasi. Suster Laurentina adalah figur yang berani dan peduli. Apa yang dilakukannya sungguh menginspirasi kita semua bahwa menghargai martabat manusia tidak hanya diukur dan dibatasi pada pemulihan martabat saat dia hidup, tetapi juga saat dia menjadi jenazah.
— Romo Vinsen Tamelab (JPIC Keuskupan Agung Kupang)Suster Laurentina dikenal sebagai “Suster Kargo”; bukan karena sebuah posisi atau gelar resmi, melainkan karena kesetiaannya yang luar biasa dalam mendampingi para korban perdagangan orang, khususnya mereka yang telah meninggal dunia. Di balik tubuhnya yang kecil dan langkahnya yang tenang, tersembunyi kekuatan besar: hati yang penuh belas kasih. Ia datang ke kargo jenazah di bandara untuk menjemput mereka yang kembali dalam peti mati. Tak ada keluarga, tak ada sambutan, hanya keheningan. Dalam keheningan itu, Suster Laurentina hadir. Ia mendoakan mereka, mengantar mereka ke rumah terakhir, seolah dia berkata, “Kamu tidak pulang sendirian.”.
— Romo Chrisanctus Paschalis Saturnus, BatamIa memilih jalan sunyi, jalan pengabdian total dalam Kongregasi Sisters of the Divine Providence, dan sejak itu, hidupnya menjadi kapal pengangkut kasih – mengantar harapan ke pelabuhan-pelabuhan yang paling remuk. Bukan panggung yang ia cari, melainkan ladang tugas di mana manusia yang tertindas perlu ditemukan dan disembuhkan. Dengan tangan yang setia, ia menerima tugas apa pun yang dipercayakan oleh kongregasinya, baik di dapur komunitas maupun di jalanan berdebu menuju dusun-dusun terpencil.
— I. Ismartono SJ
— Mgr. Siprianus Hormat, Uskup Ruteng (Ketua Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau KWI)Kehadiran dan pelayanan Suster Laurentina menjadi kekuatan dan kekayaan, baik bagi kongregasi maupun Keuskupan Agung Kupang sehingga perlu didukung dan diapresiasi. Suster Laurentina adalah figur yang berani dan peduli. Apa yang dilakukannya sungguh menginspirasi kita semua bahwa menghargai martabat manusia tidak hanya diukur dan dibatasi pada pemulihan martabat saat dia hidup, tetapi juga saat dia menjadi jenazah.
— Romo Vinsen Tamelab (JPIC Keuskupan Agung Kupang)Suster Laurentina dikenal sebagai “Suster Kargo”; bukan karena sebuah posisi atau gelar resmi, melainkan karena kesetiaannya yang luar biasa dalam mendampingi para korban perdagangan orang, khususnya mereka yang telah meninggal dunia. Di balik tubuhnya yang kecil dan langkahnya yang tenang, tersembunyi kekuatan besar: hati yang penuh belas kasih. Ia datang ke kargo jenazah di bandara untuk menjemput mereka yang kembali dalam peti mati. Tak ada keluarga, tak ada sambutan, hanya keheningan. Dalam keheningan itu, Suster Laurentina hadir. Ia mendoakan mereka, mengantar mereka ke rumah terakhir, seolah dia berkata, “Kamu tidak pulang sendirian.”.
— Romo Chrisanctus Paschalis Saturnus, BatamIa memilih jalan sunyi, jalan pengabdian total dalam Kongregasi Sisters of the Divine Providence, dan sejak itu, hidupnya menjadi kapal pengangkut kasih – mengantar harapan ke pelabuhan-pelabuhan yang paling remuk. Bukan panggung yang ia cari, melainkan ladang tugas di mana manusia yang tertindas perlu ditemukan dan disembuhkan. Dengan tangan yang setia, ia menerima tugas apa pun yang dipercayakan oleh kongregasinya, baik di dapur komunitas maupun di jalanan berdebu menuju dusun-dusun terpencil.
— I. Ismartono SJ
Ulasan Produk
0,0
0 ulasan
5
0
4
0
3
0
2
0
1
0
Belum ada ulasan untuk produk ini.
Produk Terkait
Lihat Semua
-5%
Intisari Ajaran Paus Fransiskus: Laudato Si' & Amoris Laetitia
Al.purwa hadiwardoyo, MSF
Rp 32.300
Rp 34.000
-15%
Indahnya Mengikuti Kristus Sebagai Religius
Adrianus Sunarko OFM
Rp 68.000
Rp 80.000
-15%
Anugerah Bagi Sesama
Wolfgang Bock SJ
Rp 29.750
Rp 35.000
-15%
Kedamaian Hati
St. Fransiskus dari Asisi
Rp 21.250
Rp 25.000
-15%
Santo Arnoldus Janssen
Anang YB
Rp 14.875
Rp 17.500
-15%
8 Sabda Bahagia dan Ajaran Sosial Gereja
RD St. Sutopanitro
Rp 25.500
Rp 30.000