Serat Centhini (Jilid 1)
Serat Centhini (Jilid 1)
Rp 106.250
15% Rp 125.000

Achmad Chodjim

Serat Centhini (Jilid 1)

Serat Centhini (Jilid 1)

Detail Produk

ISBN

9786026486288

Penerbit

BACA

Berat

520 gram

Dimensi

Lebar: 15 cm, Tinggi: 23 cm

Kategori

Pengembangan Diri

Deskripsi

Dalam perjalanan sebuah bangsa selalu ada pergulatan untuk mempertahankan eksistensinya. Para leluhur bangsa kita telah mengatasi berbagai persoalan di lingkungan hidup mereka. Satu per satu berhasil diatasi, dan keberhasilan itu lalu dibakukan dan diwariskan kepada anak-cucu mereka. Terbentuklah nilai-nilai yang dibingkai dalam sebuah budaya Nusantara.

Pada satu masa, keadaan di Nusantara berubah, terutama saat kedatuan Majapahit melemah pada abad ke-15. Akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17, Belanda melalui VOC (Kompeni) menancapkan kukunya di bumi kita. Kerajaan, kesultanan, dan kedatuan di Nusantara mulai runtuh. Jika tidak ada pelajaran dan ajaran yang bisa diwariskan kepada generasi anak-cucu, bangsa ini akan lenyap di telan zaman. Maka Adipati Anom Amangkunagara III, yang kemudian menjadi raja Sunan Paku Buwana V, memerintah para pujangga istana untuk mencatat kekayaan alam, adat-istiadat di tiap-tiap daerah, kebiasaan masyarakat, agama-agama dan kehidupan keberagamaan waktu itu, ajaran-ajaran kehidupan esoterik (batin) agama, dan falsafah kehidupan masyarakat. Catatan itu terhimpun menjadi Serat Centhini.

Serat Centhini terdiri dari 12 jilid. Aslinya ditulis dalam aksara dan bahasa Jawa yang dipakai di Surakarta pada abad ke-19 (1814-1823) dengan tulisan tangan. Berisi 708 pupuh (bait) tembang macapat yang puitik, Serat Centhini melukiskan keadaan zaman Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613–1645), Sunan Giri I (1487–1506), Sunan Giri II (1506–1546), Sunan Giri III (1546–1548), Sunan Giri IV (1548–1605), dan Sunan Giri V.

Ada banyak bagian teks Serat Centhini yang maknanya masih tersembunyi, sarat istilah lokal yang sulit dipahami, dan ajaran orang-orang luhur masa lalu yang hanya disebut sepintas tanpa penjelas. Banyak juga metafora dan perumpamaan yang indah tapi artinya mesti dibedah.

Buku ini hadir untuk membantu kita memahami apa yang diwariskan leluhur bangsa kita awal abad ke-19 itu. Agar maknanya bisa lebih dimengerti, ajarannya bisa dipahami, dan hikmahnya bisa diambil sebagai pijakan dalam menapaki kehidupan di masa depan, baik untuk diri kita maupun generasi muda Nusantara. Dengan penguasaan prima atas kearifan Jawa dan kelincahan bertutur, Achmad Chodjim mengajak kita mengartikulasikan lebih jauh warisan tak ternilai ini untuk kemajuan, kesejahteraan, kejayaan, dan kemakmuran negara bangsa Indonesia.

Tentang Penulis

Achmad Chodjim

Achmad Chodjim adalah seorang pemikir, pembicara, dan penulis produktif yang dikenal luas karena kepakarannya dalam bidang spiritualitas Islam, tasawuf, dan kearifan lokal Jawa. Lahir di Solo, Jawa Tengah, pada 24 November 1953, ia memiliki latar belakang pendidikan yang unik dengan menempuh studi di Institut Teknologi Bandung (ITB). Meskipun memiliki basis pendidikan teknik, ia justru mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk menggali kedalaman naskah-naskah kuno dan filosofi kehidupan, menjadikannya sosok yang mampu menjembatani antara pemikiran rasional-ilmiah dengan kedalaman rasa spiritual. Sebagai penulis, Achmad Chodjim telah melahirkan puluhan karya populer yang sering menjadi rujukan dalam studi kebudayaan dan agama di Indonesia. Namanya melambung melalui buku-buku yang membedah tokoh spiritual kontroversial namun berpengaruh, seperti Syekh Siti Jenar dan Sunan Kalijaga. Selain itu, ia aktif menulis seri tafsir esoteris seperti Al-Fatihah dan Membangun Kehidupan Berdasarkan Al-Quran. Gaya penulisannya yang analitis namun tetap mudah dipahami membuat karya-karyanya diminati oleh berbagai kalangan, mulai dari akademisi hingga pembaca umum yang mencari makna hidup di tengah modernitas. Selama beberapa dekade, ia konsisten mempromosikan nilai-nilai universal dan sinkretisme budaya yang harmonis. Melalui buku-bukunya, ia mengajak pembaca untuk tidak sekadar menjalankan ritual agama secara formal, tetapi juga memahami hakikat kemanusiaan dan hubungan batin dengan Sang Pencipta. Dedikasinya dalam literatur spiritual menjadikannya salah satu figur intelektual yang sangat dihormati dalam khazanah pustaka kontemporer di tanah air.

Lihat profil lengkap

Ulasan Produk

0,0
0 ulasan
5
0
4
0
3
0
2
0
1
0

Belum ada ulasan untuk produk ini.

Produk Terkait

Lihat Semua