Pengantar Akidah Maturidiyah
Pengantar Akidah Maturidiyah
oleh Imam at-Taftazani
Detail Produk
9786238661138
ReneTuros
2025
384 halaman
500 gram
14 x 21 x 5 cm
Islam
Indonesia
Softcover
Deskripsi
Apakah akal sanggup menyingkap hakikat Tuhan?
Benarkah manusia sepenuhnya bebas menentukan jalannya sendiri?
Bagaimana Ahlusunnah wal Jama’ah menjembatani wahyu dan logika?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan sekadar wacana kosong. Ia telah menjadi denyut yang menggerakkan perdebatan intelektual Islam selama berabad-abad. Di tangan Imam at-Taftazani (1322—1390 M), persoalan itu tak sekadar diurai, tetapi digugat, ditelaah ulang, ditentukan garis batasnya.
Pengantar Akidah Maturidiyah, terjemahan dari Syarah al-’Aqaid an-Nasafiyyah, bukan sekadar buku teologi, ia merupakan peta yang menuntun kita menyusuri simpang-jalur pemikiran ilmu kalam. Di sini, iman tak hanya diterima begitu saja. Ia diuji dengan akal, ditimbang dengan dalil, dipertemukan dengan filsafat. Teologi Maturidiyah tak menolak nalar, tetapi juga tak menempatkannya sebagai hakim tertinggi. Ia memadukan wahyu dan logika dalam rekat harmoni. Jika kita kerap bertanya tentang hakikat keimanan, tentang batas-batas akal, tentang bagaimana manusia memahami Tuhan tanpa salah arah, buku ini tak sekadar memberikan jawaban, tetapi mengajak kita menelusuri pertanyaan-pertanyaan itu secara lebih jernih dan mendalam. Sebab, keimanan yang kokoh selalu lahir dari pemahaman yang diuji secara ketat.
SINOPSISDi tengah dinamika intelektual abad ke-14, Imam at-Taftazani menyusun Syarḥ al-’Aqâid an-Nasafiyyah, sebuah komentar mendalam atas al-’Aqâid an-Nasafiyyah karya Imam an-Nasafi, teolog Mazhab Maturidiyah. Karya ini bukan hanya penjelasan, melainkan sintesis brilian antara tradisi Maturidiyah yang rasional dengan corak Asy’ariyah yang tekstual, sekaligus benteng argumen melawan aliran filsafat dan teologi yang dianggap menyimpang. Imam at-Taftazani membuka pembahasannya dengan tauhid, menguraikan sifat-sifat Allah dengan ketelitian logis. Ia membagi sifat Ilahi menjadi dzâtiyah dan fi’liyah sambil menolak keras antropomorfisme—menegaskan transendensi mutlak Allah. Di sini, ia berpolemik dengan Mu’tazilah yang membatasi kehendak Allah melalui konsep “keadilan” manusiawi, seraya menekankan kekuasaan-Nya yang absolut atas takdir. Namun, ia tak terjebak dalam determinisme; melalui konsep kasb (usaha manusia), ia merajut harmoni antara kuasa ilahi dan kebebasan terbatas manusia, layaknya tarian metafisik antara takdir dan ikhtiar. Melangkah ke ranah kenabian, Imam at-Taftazani memaparkan mukjizat sebagai bukti tak terbantahkan kebenaran Nabi Muhammad. Ia menegaskan kemurnian para nabi dari dosa (maksum) dan menutup pintu kenabian setelah Rasulullah (khatam an-nubuwwah), seraya menepis klaim kelompok sempalan. Narasinya dipenuhi kebanggaan akan Islam sebagai agama final, dengan syariat yang sempurna dan universal. Ketika membahas hari akhir, ia tak hanya menggambarkan surga-neraka secara imajinatif, tetapi juga membangun argumentasi rasional tentang kebangkitan jasmani. Dengan analogi kuasa Allah yang mencipta dari ketiadaan, ia menjawab skeptisisme filsuf yang meragukan kebangkitan tubuh hancur. Timbangan amal (mîzân) dan jembatan di atas neraka (shirâth) ia jelaskan sebagai simbol keadilan ilahi, bukan sekadar alegori. Pada puncaknya, Imam at-Taftazani menyentuh hakikat iman. Baginya, iman ialah pembenaran hati dan pengakuan lisan—tanpa mensyaratkan kesempurnaan amal. Di sini, ia bersitegang dengan Khawarij yang menyempitkan iman pada ritual, atau Mu’tazilah yang mengaitkannya dengan moralitas. Baginya, pelaku dosa besar tetap muslim selama tak mengingkari hukum Allah (istiḥlâl), sebuah prinsip inklusivitas yang menjadi jiwa Ahlusunnah. Sepanjang kitab, Imam at-Taftazani berjalan di garis tipis antara akal dan wahyu. Ia memanfaatkan logika Aristotelian untuk membedah konsep teologis, seperti ketika mengkritik Ibnu Sina yang meyakini keqadiman alam, atau menangkis pandangan Syiah tentang imamah. Namun, ia tetap berakar pada al-Quran dan hadis, menolak reduksi filsafat yang mengabaikan otoritas wahyu. Karya ini adalah upaya merajut harmoni: Memadukan rasionalitas Maturidiyah dengan keteguhan Asy’ariyah dalam mempertahankan tradisi.
SIAPA PENULIS BUKU INI?
Imam Sa’duddin at-Taftazani, atau nama lengkapnya Mas’ud bin Umar bin Muhammad bin Abu Bakar bin Muhammad bin Abu Sa’id al-Ghazi at-Taftazani, adalah seorang ulama besar yang memiliki kepakaran dalam berbagai disiplin ilmu, termasuk akidah, fikih, ushul fikih, nahwu, balaghah, dan ilmu mantiq. Ia lahir di desa Taftazan, Nisa, wilayah Khurasan (sekarang bagian dari Iran) pada bulan Safar tahun 722 H/1322 M. Berasal dari keluarga yang sangat mencintai ilmu, ia tumbuh dalam lingkungan yang mendukung pengembangan keilmuannya. Ayahnya adalah seorang qadhi yang alim, sementara kakek dan buyutnya juga termasuk ulama terkemuka. Sejak kecil, Imam at-Taftazani dikenal sebagai seorang pelajar yang gigih dalam menuntut ilmu. Keuletannya dalam melakukan penelitian dan eksplorasi intelektual menjadikannya sosok ulama paling terkemuka di dunia Islam bagian timur pada zamannya. Ia juga menjadi mufti dalam dua mazhab, yakni mazhab Syafi’i dan mazhab Hanafi. Setelah menjalani kehidupan yang penuh dengan ilmu dan pengabdian, Imam Sa’duddin at-Taftazani wafat di Samarkand pada hari Senin, 22 Muharram. Terdapat perbedaan pendapat mengenai tahun wafatnya, tetapi kemungkinan besar ia meninggal pada tahun 791 atau 792 H (17 Januari 1390 M).
Ulasan Produk
Belum ada ulasan untuk produk ini.
Produk Terkait
Lihat Semua
Kitab Tauhid
imam maturudi
Rahasia Semesta Sebelum Dunia
Hakim Tirmidzi
Iman Yang Berwawasan
Juanda S.Sos., M.A
Kifayatul Atqiya
Sayid Abu Bakar Syatha
Logika Keimanan (Bukti Logis Kebenaran Akidah Islam dalam Sorotan Sains Modern)
Ahmad Ataka
Pembebas Dari Kesesatan
Unknown