Buku Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao oleh Buya Hamka
Rp 72.000
20% Rp 90.000

Buya Hamka

Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao

Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao

Detail Produk

Penerbit

Republika

Berat

300 gram

Bahasa

Indonesia

Jenis Cover

Softcover

Deskripsi

“Dalam usahanya hendak membangkitkan kesan bahwa yang pahlawan-pahlawan sejati di masa perang Padri itu hanya Batak yang baru masuk Islam, sedang orang Minangkabau sendiri hanya suka duduk di rumah” (hal. 278)

“maka dikacaukan nyalah sejarah yang teratur. Pengacauan itu sangat mencolok mata, dan karena tebalnya buku “Tuanku Rao” banyaklah orang yang pengetahuannya tentang sejarah masih primary (masih dasar) yang tertipu lalu mempercayainya.” (hal. 691)

Sinopsis
Buya Hamka. Nama lengkapnya Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Putra pertama dari pasangan Dr. Abdul Karim Amrullah dan Shaffiah ini lahir pada 17 Februari 1908 di Maninjau, Sumatera Barat. Tidak satupun pendidikan formal ditamatkannya. Banyak membaca menjadi modalnya, tak lupa belajar langsung dengan tokoh dan ulama, baik di Sumatra Barat, Jawa, bahkan sampai ke Mekah. Doktor Honoris Causa dari Universitas al-Azhar dan Universitas Prof. Moestopo Beragama ini wafat pada hari Jum’at, 24 Juli 1981.

Tentang Penulis

Buya Hamka
Buya Hamka

Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah, yang lebih dikenal dengan nama pena Buya Hamka, adalah seorang ulama kharismatik, sastrawan legendaris, dan pahlawan nasional Indonesia. Lahir di Sumatra Barat pada tahun 1908, ia merupakan sosok autodidak yang melahirkan karya-karya monumental lintas genre, mulai dari tafsir agama hingga novel roman. Perpaduan unik antara kedalaman ilmu keislaman dan kepekaan sastranya membuat gaya penulisannya sangat menyentuh hati, humanis, dan mudah dicerna oleh berbagai lapisan masyarakat di Asia Tenggara. Sebagai sastrawan, Hamka berhasil menggetarkan dunia literasi lewat novel ikonik seperti Tenggelamnya Kapal Van der Wijck dan Di Bawah Lindungan Ka'bah, yang mengkritik tradisi kawin paksa dan rigiditas adat berlatar budaya Minangkabau. Namun, mahakarya terbesarnya yang mengukuhkan posisinya sebagai pemikir Islam terkemuka adalah Tafsir Al-Azhar, sebuah karya komprehensif 30 juz yang sebagian besar ia selesaikan saat mendekam di penjara sebagai tahanan politik era Orde Lama. Dedikasi hidupnya dalam menulis tidak hanya memperkaya khazanah sastra nasional, tetapi juga memberikan tuntunan moral dan spiritual yang tetap relevan hingga hari ini.

Lihat profil lengkap

Ulasan Produk

0,0
0 ulasan
5
0
4
0
3
0
2
0
1
0

Belum ada ulasan untuk produk ini.

Produk Terkait