GRATIS ONGKIR min. Rp50.000
perbedaan alkitab tb1 dan tb2

Alkitab LAI TB1 vs TB2: Apa Bedanya dan Mengapa Perlu Diperbarui?

Diperbarui 20 Januari 2026

Bagi umat Kristen di Indonesia, Alkitab Terjemahan Baru (TB) terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) sudah menjadi "makanan sehari-hari" selama puluhan tahun. Hampir semua gereja menggunakannya dalam ibadah minggu.

Namun, kehadiran Alkitab Terjemahan Baru 2 (TB2) yang diluncurkan pada tahun 2023 lalu memunculkan banyak pertanyaan. "Kenapa harus ada versi baru?" "Apakah isinya berubah?" "Apakah Alkitab lama saya (TB1) sudah tidak berlaku?"

Tenang, Anda tidak sendirian. Perubahan dalam teks sakral seringkali memicu kekhawatiran. Artikel ini akan membedah perbedaan mendasar antara TB1 (1974) dan TB2 (2023) dengan bahasa yang sederhana, supaya Anda bisa memahami alasan mulia di balik pembaruan ini.


1. Faktor Usia dan Perkembangan Bahasa Indonesia

Perbedaan paling mendasar adalah soal "rasa bahasa".

  • TB1 (Terjemahan Baru 1974): Bayangkan bahasa Indonesia yang kita pakai di tahun 70-an. Ejaan dan pemilihan katanya tentu berbeda dengan sekarang. TB1 menggunakan tata bahasa yang baku pada masanya, namun bagi generasi Gen-Z atau milenial saat ini, beberapa kalimat mungkin terasa kaku atau "terlalu sastra".

  • TB2 (Terjemahan Baru 2): Bahasa itu hidup dan berkembang. Selama 50 tahun terakhir, Bahasa Indonesia mengalami banyak perubahan ejaan (dari Ejaan Yang Disempurnakan hingga PUEBI) dan pergeseran makna kata. TB2 hadir menyesuaikan teks Alkitab dengan kaidah Bahasa Indonesia modern agar lebih mengalir, mudah dipahami, dan tidak rancu, tanpa mengurangi kesakralannya.

2. Perubahan Kosa Kata (Diksi) yang Lebih Tepat

Ini adalah bagian yang paling sering disorot. Di TB2, LAI melakukan revisi pada kata-kata yang dianggap sudah arkais (kuno) atau maknanya sudah bergeser di telinga masyarakat modern.

Contoh Perubahan:

  • Kata "Gembok": Dalam TB1, mungkin Anda pernah menemukan kata yang kurang lazim. Di TB2, kata-kata tersebut diganti dengan padanan yang lebih umum dimengerti saat ini namun tetap setia pada teks aslinya.

  • Istilah "Kusta": Ada penyesuaian istilah penyakit kulit agar lebih akurat secara medis maupun konteks sejarah zaman Yesus, karena tidak semua "penyakit kulit" di Alkitab adalah kusta seperti yang kita kenal sekarang.

  • Sapaan "Tuanku": Penggunaan kata ganti orang dan sapaan diperhalus untuk mencerminkan rasa hormat yang sesuai dengan budaya Indonesia saat ini.

Intinya, TB2 berusaha menghindari kata yang membuat pembaca "tersandung" karena bingung dengan artinya.

3. Akurasi dan Studi Biblika Terbaru

Apakah terjemahan lama salah? Tidak. Tapi ilmu pengetahuan terus berkembang.

Sejak TB1 rilis tahun 1974, ilmu studi biblika (penelitian naskah asli Ibrani, Aram, dan Yunani) mengalami kemajuan pesat. Para penerjemah kini memiliki akses ke data naskah kuno yang lebih lengkap dan pemahaman konteks budaya Timur Tengah kuno yang lebih tajam.

TB2 memanfaatkan kemajuan ini untuk mengoreksi detail-detail kecil agar lebih mendekati makna asli dari penulis Alkitab. Jadi, perubahannya bukan mengubah doktrin iman, melainkan mempertajam akurasi makna.

4. Konsistensi Penulisan Nama dan Istilah

Pernahkah Anda bingung dengan penulisan nama tempat atau orang yang berbeda-beda di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru?

TB2 membereskan hal ini. Revisi ini sangat fokus pada konsistensi. Misalnya, ejaan nama tokoh atau tempat diseragamkan di seluruh kitab. Ini sangat membantu bagi Anda yang suka melakukan studi Alkitab (Bible Study) atau penggalian tema, karena penelusuran kata kuncinya jadi jauh lebih mudah.


Kesimpulan: Perlukah Beralih ke TB2?

Jawabannya: Sangat disarankan, tapi tidak perlu terburu-buru membuang TB1 Anda.

Alkitab TB1 tetaplah Firman Tuhan yang valid dan telah memelihara iman umat Kristen Indonesia selama setengah abad. Namun, Alkitab TB2 hadir sebagai hadiah bagi generasi masa kini agar dapat memahami Firman Tuhan dengan lebih jernih, tanpa terhalang tembok bahasa yang kaku.

Ibarat membersihkan kacamata yang berdebu; pemandangannya sama, tapi kini terlihat jauh lebih jelas dan terang.

Jika gereja Anda mulai membacakan ayat dari TB2, jangan kaget jika bunyinya sedikit berbeda. Nikmatilah itu sebagai kesegaran baru dalam merenungkan Firman-Nya.

Bagikan artikel ini:

Artikel Terkait