Mengenal Lebih Dekat Ps. Juan Mogi: Sosok Inspiratif di Balik GBI Gilgal
Kalau kita bicara soal gereja yang relevan dengan perkembangan zaman dan buku-buku rohani yang ringan namun nonjok, nama Ps. Juan Mogi rasanya sulit untuk dilewatkan. Bagi jemaat GBI Gilgal yang berpusat di Pantai Indah Kapuk (PIK), beliau adalah sosok bapak rohani sekaligus pemimpin yang membawa visi besar. Tapi di luar mimbar gereja, beliau juga dikenal luas sebagai penulis buku best-seller yang karyanya banyak memberkati orang.
Sebenarnya, seperti apa sih perjalanan hidup dan pelayanan seorang Juan Mogi? Yuk, kita bedah profilnya lebih jauh!
Darah Pelayanan yang Mengalir dari Keluarga
Ps. Juan Mogi tidak tiba-tiba muncul menjadi seorang Senior Pastor. Pelayanan rupanya sudah menjadi bagian dari DNA keluarganya. Beliau tumbuh di bawah didikan orang tuanya, Ps. Wem Mogi dan Ps. Meity Mogi.
Keluarga ini punya kisah yang menarik. Pada tahun 1992, sang ayah mendapat sebuah visi spiritual yang kuat: "To Be a Strong Church". Visi ini tidak dibiarkan menguap begitu saja. Tiga tahun kemudian, tepatnya di tahun 1995, Ps. Wem bersama istrinya dan ketiga anak mereka—Grace, Juan, dan Jane—mulai merintis sebuah gereja yang kini kita kenal sebagai GBI Gilgal. Dari keluarga inilah, karakter dan hati seorang Juan Mogi untuk menggembalakan mulai terbentuk.
Saat ini, tongkat estafet kepemimpinan GBI Gilgal dipegang oleh Ps. Juan, yang melayani dengan setia bersama sang istri tercinta, Lusiawati Karim, dan putri mereka, Charissa Mogi.
Pengalaman "Lahir Baru" di Masa Remaja
Banyak yang mengira anak seorang hamba Tuhan pasti punya jalan rohani yang mulus-mulus saja. Faktanya, Ps. Juan punya momen titik baliknya sendiri.
Meski sudah dibaptis air sejak masih kelas 1 SD, perjumpaan pribadinya yang benar-benar radikal dengan Tuhan baru terjadi di tahun 1987, saat ia berusia 14 tahun. Waktu itu, ia sedang melewati masa remaja yang cukup menantang. Di sebuah persekutuan doa, ia tiba-tiba merasakan sebuah kehangatan yang menjalar di tubuhnya dan tak kuasa menahan tangis.
Momen itulah yang ia sebut sebagai pengalaman "lahir baru". Gairahnya untuk mengenal Tuhan tiba-tiba menyala, bahkan ia jadi punya kerinduan yang besar untuk menginjili teman-temannya. Menariknya, Ps. Juan mendefinisikan lahir baru bukan sekadar pengalaman emosional sesaat, melainkan sebuah pertobatan dan proses perubahan mindset yang terus-menerus agar selaras dengan firman Tuhan.
Menyeimbangkan Spiritualitas dan Pengetahuan
Salah satu hal yang bikin pengajaran dan tulisan Ps. Juan terasa sangat "membumi" adalah latar belakang pendidikannya. Beliau tidak hanya belajar teologi, tapi juga punya pemahaman yang kuat di bidang bisnis.
Pada tahun 1994, ia menyelesaikan studi dan meraih gelar Bachelor of Science in Business Administration (BSBA) dari GS Fame Institute of Business. Setelah itu, untuk memperdalam kapasitasnya dalam memimpin, ia mengambil studi Master of Arts (MA) bidang Leadership di Harvest International Theological Seminary dan lulus pada tahun 2000.
Kombinasi antara ilmu bisnis, leadership, dan hati seorang gembala inilah yang membuat pelayanannya sangat berdampak, tidak hanya di Indonesia, tapi merambah ke Asia, Amerika, Australia, hingga Eropa.
Karya Tulis yang Menemani Perjalanan Banyak Orang
Kalau kamu suka bacaan rohani yang praktis, bahasanya kekinian, tapi tetap punya nilai teologis yang dalam, buku-buku karya Ps. Juan Mogi adalah jawabannya. Pengalamannya berinteraksi dengan banyak orang tertuang apik dalam tulisan-tulisannya.
Beberapa karya best-seller yang wajib kamu lirik antara lain:
Nothing is Impossible
Enjoy Your Life
The Art of Worship
Over the Storm
Be Fun, Be Real, Be You (Buku yang secara khusus membedah prinsip, kisah hidup, dan kunci keberhasilan yang personal)
All Things Are Possible
Family Recipe
Oh ya, selain lewat buku dan podcast di kanal YouTube-nya yang punya puluhan ribu subscribers, Ps. Juan beserta keluarga juga pernah merilis album pujian penyembahan bertajuk Nothing is Impossible.
Kisah Ps. Juan Mogi mengingatkan kita bahwa pelayanan yang besar lahir dari proses yang panjang, dukungan keluarga, dan yang terpenting: perjumpaan pribadi dengan Tuhan yang terus diperbarui setiap hari.