Buku Seperti Iman, Nalar Menuntunmu Menuju Kebahagiaan oleh Ibnu Rusyd
Rp 75.000

Ibnu Rusyd

Seperti Iman, Nalar Menuntunmu Menuju Kebahagiaan

Seperti Iman, Nalar Menuntunmu Menuju Kebahagiaan

Detail Produk

ISBN

9786238661244

Penerbit

ReneTuros

Tahun Terbit

2025

Jumlah Halaman

252 halaman

Berat

330 gram

Dimensi

14 x 21 x 3 cm

Kategori

Islam

Bahasa

Indonesia

Jenis Cover

Softcover

Deskripsi

“Dengan kejernihan berpikir yang langka, melalui Fashl al-Maqâl, Ibnu Rusyd membebaskan filsafat Islam dari tuduhan menyesatkan dan mengembalikannya ke tempat terhormat.”
—Abed al-Jabiri, filsuf Maroko terkemuka


“Filsafat meruntuhkan iman.”
“Syariat mengekang nalar.”


Klaim-klaim semacam ini kerap kita dengar, tapi tak sering benar-benar diuji. Syariat dan filsafat kerap dipertentangkan, seolah yang satu menegasikan yang lain. Dalam Fashl al-Maqâl, Ibnu Rusyd menunjukkan bahwa keduanya justru berjalan beriringan menuju tujuan yang sama: kebahagiaan hakiki.


Berlandaskan pada perintah syariat untuk merenungi segala maujud, Ibnu Rusyd menandaskan bahwa nalar demonstratif, yang diakomodasi oleh filsafat, adalah jalan terbaik untuk mewujudkan tujuan tersebut. Dengan demikian, filsafat bukanlah lawan dari syariat, melainkan alat untuk memahaminya lebih dalam. Jika keduanya tampak bertentangan, takwil yang cermat akan mampu mengatasinya.


Syariat mengandung kebenaran. Filsafat juga menuntun kita kepada kebenaran. Oleh karena itu, bagi Ibnu Rusyd, kebenaran takkan bertentangan dengan kebenaran lainnya. Jika Anda meyakini bahwa iman akan mengakar kuat tanpa nalar, buku ini akan membuat Anda meragukan itu. Pun jika Anda percaya bahwa nalar akan berdiri kokoh tanpa fondasi iman, buku ini akan membuat Anda berpikir ulang. Jadi, selamat membaca.


SINOPSISSeperti Iman, Nalar Menuntunmu Menuju Kebahagiaan adalah terjemahan dari risalah Fashl al-Maqâl fî Taqrîr Mâ bain asy-Syarî’ah wa al-Ḥikmah min al-Ittishâl karya Ibnu Rusyd, seorang filsuf agung dan fakih terkemuka dari Andalusia. Risalah ini merupakan salah satu dokumen intelektual paling penting dalam sejarah filsafat Islam karena secara eksplisit menegaskan keselarasan antara syariat dan filsafat, wahyu dan nalar.


Ibnu Rusyd menempatkan filsafat sebagai kewajiban syar’i bagi mereka yang berkompeten, dengan dasar bahwa al-Quran sendiri mendorong manusia untuk merenungi ciptaan Tuhan melalui penalaran. Ia membangun hierarki metode pengetahuan—retorika, dialektika, dan demonstrasi—dan menempatkan burhân (nalar demonstratif) sebagai puncak yang mengantarkan kita kepada kepastian. Dari kerangka ini lahir pula distingsi tentang siapa yang boleh mengakses takwil dan bagaimana perbedaan kapasitas intelektual masyarakat harus dihargai.


Risalah ini sekaligus merupakan fatwa epistemologis yang membatalkan pelarangan filsafat sekaligus mengesahkan penggunaannya dalam memahami agama. Ibnu Rusyd menegaskan bahwa kebenaran tidak mungkin bertentangan dengan kebenaran; apa yang benar secara aqli niscaya sejalan dengan apa yang benar secara naqli. Pandangan ini bukan saja melampaui perdebatan klasik antara teolog dan filsuf, tetapi juga membuka ruang pluralitas interpretasi dalam Islam.


Edisi terjemahan ini diperkaya dengan komentar kritis Abed al-Jabiri, yang menempatkan Fashl al-Maqâl sebagai landasan bagi fikih takwil sekaligus strategi intelektual menghadapi krisis epistemologi Islam. Al-Jabiri menyoroti bahwa Ibnu Rusyd tidak sedang mencari kompromi, tetapi merumuskan sintesis yang memungkinkan iman dan nalar saling mengoreksi.


Di tengah perdebatan kontemporer tentang relasi agama dan sains, literalitas dan kontekstualitas tafsir, serta kebebasan berpikir dalam Islam, karya ini tetap menawarkan pencerahan. Ia menghadirkan keberanian intelektual yang relevan lintas zaman, bahwa syariat dan filsafat adalah dua jalan yang, meski berbeda cara, bertemu pada satu tujuan: Membimbing manusia menuju kebahagiaan hakiki.


PENULIS BUKU INI
Ibnu Rusyd, atau Averroes dalam tradisi Latin, lahir di Córdoba pada 1126 M dan tumbuh dalam lingkungan keluarga terpelajar. Ia adalah seorang filsuf, hakim, dokter, dan fakih terkemuka yang hidup pada era keemasan Andalusia. Sejak muda, ia akrab dengan ilmu agama dan filsafat, dan dikenal karena kecerdasan serta ketekunannya yang luar biasa. Ibnu Rusyd menyelami karya-karya Aristoteles dan mengembangkannya dalam terang ajaran Islam, hingga ia dijuluki “Sang Komentator” oleh para pemikir Barat karena penafsirannya yang mendalam terhadap filsafat Aristotelian.
Namun, Ibnu Rusyd bukan sekadar penerjemah gagasan Yunani ke dalam Islam. Ia adalah pemikir yang berani: membela nalar dalam beragama, dan meyakini bahwa iman dan nalar sejatinya tidak bertentangan. Karya ini, Fashl al-Maqâl, menjadi bukti bahwa filsafat dapat menjadi alat untuk memahami syariat, bukan lawannya. Meski pada akhir hidupnya ia sempat mengalami pengasingan karena pandangannya yang dianggap kontroversial, warisannya justru melampaui batas zaman dan wilayah, memengaruhi dunia Islam maupun Barat hingga hari ini.

Ulasan Produk

0,0
0 ulasan
5
0
4
0
3
0
2
0
1
0

Belum ada ulasan untuk produk ini.

Produk Terkait

Lihat Semua